whoiky

Dokumentasi sebuah diri

Aku bukan pilihan yang sempurna. Aku punya terlalu banyak kontradiksi, terlalu sering overthinking, dan terlalu keras kepala untuk diatur. Tapi jika kamu mencari seseorang yang akan jujur—bahkan ketika kejujuran itu menyakitkan— mungkin ini untukmu.

SCROLL

Chapter I

Kontradiksi yang Konstan

Aku suka dilarang
tapi aku benci dikekang. Larangan itu tantangan yang harus dipecahkan. Kekangan? Itu penjara tanpa jeruji.
Aku menentang abangku
jadi akan lucu jika aku menuruti pacarku yang hanya sebatas pacar. Hierarki kebebasanku sudah mapan sejak lama.
Aku bisa romantis
tapi selalu ku iringi dengan realistis. Bunga akan layu. Logika akan abadi. Aku pilih yang abadi.
Aku serius
tapi sering bercanda seolah itu serius. Kamu tidak akan pernah tahu batasnya sampai kamu menyentuhnya dan terbakar.
Aku bisa mengemis maaf
tapi aku juga punya batas. Harga diriku tidak sebatas itu. Aku akan berlutut, tapi tidak akan merangkak.

Chapter II

Pertemuan yang Tidak Direncanakan

Aku hanya berniat menemani temanku bertemu pacarnya. Sederhana. Tidak ada rencana, tidak ada harapan, tidak ada skenario yang kulatih di kepala.

Tapi temanku ingin berboncengan dengan cewenya, dan aku pun membonceng dia. Dan saat itu, aku seperti mempertaruhkan harga diriku dalam setiap meter jalan.

Aku takut asal ngomong. Aku takut menekan rem karena takut dikira modus. Setiap sentuhan bahu—entah apa itu—membuatku bertanya di dalam kepala: "Apakah dia mengira aku sengaja?"

Di pikiranku hanya satu hal: jangan sampai salah. Jangan sampai diartikan sebagai orang lain. Jangan sampai kebaikan sederhana ini menjadi beban yang harus dibayar dengan penjelasan.

Lucunya, dia mengagumiku hanya karena aku memboncengnya. Padahal aku sedang sibuk mempertahankan jarak, sibuk memastikan aku tidak melanggar ruang yang bukan milikku, sibuk memastikan aku tidak terlihat seperti predator yang mencari mangsa.

Itu aku. Terlalu sadar diri sampai-sampai tidak sadar bahwa kesadaranku itulah yang mungkin menarik. Terlalu takut salah sampai-sampai tidak sadar bahwa ketakutan itu adalah bentuk kepedulian yang paling jujur.

Chapter III

Filosofi Operasional

"Jika hati tidak bisa menjelaskan,
aku akan menggunakan logikaku sendiri.
Jika logika gagal, aku akan diam.
Diam bukan berarti kosong.
Diam adalah sistem pertahanan yang paling canggih."

— Cara Kerja Internal

Aku putus sekolah, bukan putus berpikir. Bahasa daerahku kacau di hadapan cewek, jadi aku menggunakan bahasa Indonesia—rapi, terstruktur, tanpa perlu ijazah untuk membuktikan kemampuan berpikir.

Aku adalah orang yang sangat penasaran. Haus akan ilmu, haus akan hal baru. Aku tidak pernah bosan dengan orang yang aku sukai—tapi aku akan bosan dengan rutinitas yang monoton. Perubahan adalah oksigen bagiku.

Chapter IV

Realita yang Tidak Dinegosiasikan

Chapter V

Yang Sebenarnya

Jika bertemu kembali, aku akan sangat menarik diri. Di WhatsApp, aku asik—bisa berjam-jam bicara tanpa habisnya. Tapi bertemu? Aku akan diam. Hanya berbicara yang penting saja. Aku tidak bisa mencari topik. Bukan karena tidak mau, tapi karena aku tidak tahu apa yang pantas dipertanyakan tanpa terdengar mengorek privasi.

Aku tidak takut jika dirimu salah. Yang aku takut adalah diriku salah dan aku tidak mengetahui jika diriku salah. Aku takut ada yang disembunyikan. Bukan karena aku posesif, tapi karena aku tidak ingin menjadi idiot yang terakhir tahu.

Aku suka kejujuran walau itu akan menyakitkan. Walau itu akan mengakhiri. Walau itu akan menjadi konflik. Kebohongan yang manis adalah racun yang lambat. Aku lebih baik disakiti dengan fakta daripada ditenangkan dengan dusta.

Tidur yang Terganggu
Aku suka tidur, tapi aku akan selalu terganggu saat tidur. Pikiran tidak pernah benar-benar istirahat.
Haus Akan Hal Baru
Ilmu adalah oksigen. Monoton adalah kematian perlahan. Aku perlu terus bergerak, belajar, menemukan.
Bahasa yang Dipilih
Bahasa daerahku kacau di hadapan cewek. Jadi aku memilih bahasa Indonesia—rapi, terstruktur, aman.
Overthinking yang Kronis
Setiap tindakan dianalisis. Setiap kemungkinan dihitung. Itu melelahkan, tapi itu yang membuatku tetap aman.

Final Chapter

Keputusan

Jadi, ini aku.

Dengan segala overthinking, ketidakmampuan mencari topik saat bertemu, obsesi akan kejujuran yang mungkin terlalu tajam, dan harga diri yang rapuh tapi bukan untuk dipecahkan.

Apakah kamu mau...