Aku hanya berniat menemani temanku bertemu pacarnya. Sederhana. Tidak ada rencana, tidak ada harapan, tidak ada skenario yang kulatih di kepala.
Tapi temanku ingin berboncengan dengan cewenya, dan aku pun membonceng dia. Dan saat itu, aku seperti mempertaruhkan harga diriku dalam setiap meter jalan.
Aku takut asal ngomong. Aku takut menekan rem karena takut dikira modus. Setiap sentuhan bahu—entah apa itu—membuatku bertanya di dalam kepala: "Apakah dia mengira aku sengaja?"
Di pikiranku hanya satu hal: jangan sampai salah. Jangan sampai diartikan sebagai orang lain. Jangan sampai kebaikan sederhana ini menjadi beban yang harus dibayar dengan penjelasan.
Itu aku. Terlalu sadar diri sampai-sampai tidak sadar bahwa kesadaranku itulah yang mungkin menarik. Terlalu takut salah sampai-sampai tidak sadar bahwa ketakutan itu adalah bentuk kepedulian yang paling jujur.